SANG MURSYID (10) Keselamatan hidup harus diketahui dengan PASTI.. Bukan masih ada kata “kalau-kalau”. Kalau-kalau = kalau Allah berkehendak (Insya Allah) = mudah-mudahan = ragu-ragu = tidak pasti (Maksudnya : untuk kata Insya Allah sudah di salah gunakan untuk hal yang belum pasti, padahal Insya Allah itu kata pasti). Kepastian perkataan harus di ketahui dengan tepat, tidak mengira-ngira atau mendug a-duga. Dalam ke-ilmuan Hakekat dan Marifatullah telah diajarkan tentang kepastian perkataan dan perlakuan, bukan masih dalam “pradugaan” yang dipakai oleh orang-orang selama ini dalam memahami jaminan keselamatan hidup. Pengetahuan kepastian tersebut, bukan karena “ingin” mendahulukan Allah swt dan Rasulnya, melainkan telah menjadi suratan dariNya, bahwa kepastian itu (Hak) dapat diketahuinya dengan tepat dan pasti khusus bagi mereka yang menjalani ajaran spritual sejati ini dengan benar dan tepat pula, hanya sayang-nya sebagian orang yang belum “sampai” telah sa...
Sepanjang perjalanan hidup dan kehidupan, seorang hamba senantiasa dituntut untuk berusaha menjaga, memperbaiki dan meningkatkan kualitas iman dan ketakwaan dalam menghambakan diri kepada Allah swt. Di mana mereka harus sadar akan posisi dirinya sebagai hamba Allah (‘abid) yang harus taat dan tunduk terhadap segala titah-Nya, sebagai yang disembah (al-ma’bud) dalam kondisi apa pun adanya. Dalam menuju kesana banyak cara yang ditempuh sesuai dengan cara dan pendekatan bermacam-macam dan berbeda-beda, antara lain, dengan mengasingkan diri dari keramaian, menjauhkan diri dari kehidupan materi, memilih hidup sederhana. Aktifitas-aktifitas semacam itu kemudian disebut dengan kehidupan asketis (zuhud). Semua perjalanan yang dilalui itu adalah semata-mata dalam rangka menemukan tujuan hidup hakiki yang merupakan kebahagiaan yang kekal dan abadi. Dalam perkembangan selanjutnya, perjalanan spiritual yang demikian itu kemudian dikenal dengan perjalanan dan pengalaman sufistik. Sedangkan ...
Terlalu banyak fakta bahwa salah satu konflik terbesar kemanusiaan adalah mengatasnamakan agama. Pertanyaannya : Apakah agama lebih mulia daripada Manusia? Apakah Tuhan lebih menyayangi Agama daripada Manusia? Apakah Tuhan menciptakan manusia untuk membela Agama? Apakah Tuhan menghendaki agama untuk membantu Manusia agar menjadi manusia yang baik dan benar? Jika Tuhan menciptakan agama untuk membantu manusia agar menjadi baik dan benar. Lalu mengapa manusia justru membunuh manusia dengan alasan Agama? Dimana letak kebaikan dan kebenarannya? Dan hal ini menjadi kesimpulan bagi diri kita bahwa baik dan benar tidaknya agama tergantung akhlak manusianya, bukan baik dan benar tidaknya manusia tergantung agamanya. Agama bukanlah sumber kebenaran. Sumber kebenaran terdapat di dalam diri manusia itu sendiri. manusia yang mempunyai sifat luhur dan mulia. Agama hanya menunjukan dimana letaknya sumber kebenaran itu yang berada di dalam diri manusia. Tuhan menurunka...
MENJAGA MENTAL AGAR TETAP STABIL MENGAPA CATATAN-CATATAN ADA DIHADAPAN ANDA? MELIHAT banyak-nya dari kalangan ahli Tasauf bersikap enggan untuk berterus-terang tentang Ilmu-nya kepada masyarakat, mungkin hal ini karena takut timbul-nya pertentangan antara ahli Syareat dan Tasawuf atau akibat kesan pertarungan para ahli Syareat dan Tasawuf di-jaman dulu, oleh sebab itu pesan untuk menutupi rahasia Ilmu Tasawuf ini di-warisi oleh Ulama-ulama Tasawuf sekarang, tetapi tentunya banyak hal juga yang menjadi pertimbangan hingga pengetahuan ini sengaja di-tutup-tutupi diantaranya adalah untuk meng-hindari fitnah karena ketidak siapan masyarakat awam untuk mendengar hal-hal yang tidak pernah mereka dengar di bangku sekolahan secara formal atau dari lingkungan masyarakat dan keluarga-nya. Juga melihat banyak dari masyarakat beranggapan bahwa ilmu Tasawuf adalah ilmu yang hanya di-gunakan untuk hal-hal yang berhubungan dengan Klenik (per-dukun-an) yaitu sekedar untuk ilmu...
HAKEKAT DIRI (ILMU HAKIKI) “Allah itu adalah keadaanku, kenapa kawan-kawan pada memakai penghalang? Sesungguhnya aku inilah haq Allah pun tiada wujud dua, nanti Allah sekarang Allah, tetap dzahir batin Allah, kenapa kawan-kawan masih memakai pelindung?” (Babad Tanah Sunda, Sulaeman Sulendraningrat, 1982, bagian XLIII). Ucapan spiritual Syekh Siti Jenar tersebut diucapkan pada saat para wali menghendaki diskusi yang membahas masalah Micara Ilmu tanpa Tedeng Aling-aling. Diskusi para wali diadakan setelah Dewan Walisanga mendengar bahwa Syekh Siti Jenar mulai mengajarkan ilmu ma’rifat dan hakikat. Sementara dalam tugas resmi yang diberikan oleh Dewan Walisanga hanya diberi kewenangan mengajarkan syahadat dan tauhid. Sementara menurut Syekh Siti Jenar justru inti paling mendasar tentang tauhid adalah manunggal, di mana seluruh ciptaan pasti akan kembali menyatu dengan yang menciptakan. Pada saat itu, Sunan Gunung Jati mengemukakan, “Adapun Allah itu adalah yang berwujud haq”; Sunan ...