Kekasih atau Wali Allah yang satu ini lebih dikenal dengan sebutan Habib Neon. Mengapa kekasih Allah ini diberi gelar Habib Neon, berikut ulasannya. Beliau masyhur disebut Habib Neon. Nama aslinya Habib Muhammad bin Husein al-Aydrus. Nama Habib Neon bukanlah sebatas nama biasa. Tapi itu sebuah nama yang berawal dari kisah menakjubkan, betapa cahaya sang habib memang luar biasa. Adapun kisah ini adalah disarikan dari buku 17 Habaib Berpengaruh di Indonesia. Saat itu, pada sebuah majelis di kota Surabaya, tiba-tiba lampu padam. Seketika keadaan pun menjadi gelap gulita. Padahal ketika itu para jama’ah sedang khusyu’ mengaji bersama. Tiba-tiba datanglah sepercik cahaya yang makin bersinar terang.Tampak sesosok lelaki memakai pakaian serba putih yang lengkap dengan jubah dan sorbannya berjalan menuju masjid. Beliau adalah Habib Muhammad bin Husein al-Aydrus. Seketika itu, bagian dalam masjid terang benderang. Cahaya yang terpancar dari wajah beliau bisa membuat seisi masjid menikmati cahay...
Baca juga TASK FORCE PUNGLI Undang-Undang IT & Contoh Pelanggarannya : Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik adalah ketentuan yang berlaku untuk setiap orang yang melakukan perbuatan hukum sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini, baik yang berada di wilayah hukum Indonesia maupun di luar wilayah hukum Indonesia, yang memiliki akibat hukum di wilayah hukum Indonesia dan/atau di luar wilayah hukum Indonesia dan merugikan kepentingan Indonesia. Secara umum, materi Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UUITE) dibagi menjadi dua bagian besar, yaitu pengaturan mengenai informasi dan transaksi elektronik dan pengaturan mengenai perbuatan yang dilarang. Pengaturan mengenai informasi dan transaksi elektronik mengacu pada beberapa instrumen internasional, seperti UNCITRAL Model Law on eCommerce dan UNCITRAL Model Law on eSignature. Bagian ini dimaksudkan untuk mengakomodir kebutuhan para pelaku bisnis di internet dan masyarakat umumnya guna menda...
Terlalu banyak fakta bahwa salah satu konflik terbesar kemanusiaan adalah mengatasnamakan agama. Pertanyaannya : Apakah agama lebih mulia daripada Manusia? Apakah Tuhan lebih menyayangi Agama daripada Manusia? Apakah Tuhan menciptakan manusia untuk membela Agama? Apakah Tuhan menghendaki agama untuk membantu Manusia agar menjadi manusia yang baik dan benar? Jika Tuhan menciptakan agama untuk membantu manusia agar menjadi baik dan benar. Lalu mengapa manusia justru membunuh manusia dengan alasan Agama? Dimana letak kebaikan dan kebenarannya? Dan hal ini menjadi kesimpulan bagi diri kita bahwa baik dan benar tidaknya agama tergantung akhlak manusianya, bukan baik dan benar tidaknya manusia tergantung agamanya. Agama bukanlah sumber kebenaran. Sumber kebenaran terdapat di dalam diri manusia itu sendiri. manusia yang mempunyai sifat luhur dan mulia. Agama hanya menunjukan dimana letaknya sumber kebenaran itu yang berada di dalam diri manusia. Tuhan menurunka...
Tuhan dalam Konsep Wahdatul Wujud Secara etimologi istilah wahdat al-wujud merupakan penggabungan dari dua suku kata bahasa Arab, wahdah (وحدة ) dan al-wujud ( الوجود ). Bentuk penggabungan kedua-dua kata tersebut dalam ilmu nahu disebut idafi atau mempunyai kedudukan sebagai sebagai mudaf (wahdah) dan mudaf ilaih (al-wujud). Sedangkan kalau dilihat dari segi ilmu saraf, kata wahdah merupakan bentuk masdar daripada kata kerja wahada ( وحد ) yang berarti sendiri atau bersendirian. Sedangkan kata al-wujud merupakan bentuk masdar daripada kata kerja wajada ( وجد ) yang bererti menemukan. Jadi secara etimologi kata wahdah bererti keesaan atau kesatuan lawan daripada kata banyak ( الكثرة ) atau terbilang ( التعدد ) dan kata al-wujud bererti temuan atau wujud lawan daripada kata cadam ( عدم ). Penggabungan daripada kedua-dua kata tersebut sering diartikan sebagai kesatuan wujud atau kesatuan realitas. Sedangkan pengertian kata wahdat al-wujud secara terminologi banyak diungkap...
Mengenal Diri: Ta'alluq, Takhalluq, dan Tahaqquq Mengenal diri adalah cara sufi dalam mengenal Tuhannya. Di dalam tradisi kaum sufi terdapat postulat yang berbunyi: Man 'arafa nafsahu faqad 'arafa rabbahu --Siapa yang telah mengenal dirinya maka ia telah mengenal Tuhannya. Jadi, pengenalan diri adalah pintu yang harus dimasuki dalam rangka berkenalan dengan Ketuhanan. Mengapa perlu mengenal diri manusia? Karena pada dasarnya manusia adalah puncak ciptaan Tuhan dengan tingkat kesempurnaan dan keunikan-Nya yang prima dibanding makhluk lainnya (QS. 95:4). Namun, Allah juga memperingatkan bahwa kualitas kemanusiaannya, masih setengah jadi, sehingga harus berjuang untuk menyempurnakan dirinya (QS. 91:7-10). Proses penyempurnaan ini amat dimungkinkan karena pada naturnya manusia itu fithri, hanif dan berakal. Lebih dari itu, Allah juga mengutus guru sejati, Muhammad Rasulullah pembawa kitab suci sebagai petunjuk (QS. 4:174). Persoalannya adalah, bagaimana cara mengen...
Komentar
Posting Komentar
SKP : MENANTI KOMENTAR ANDA DALAM RANGKA MEMBERIKAN MASUKAN SARAN DAN PENDAPAT.....