SUNYI
Sunyi tak pernah sendirian. Ia selalu terkait dengan kita, aku, dunia. Ketika di malam Natal di 1818 di sebuah gereja dusun Austria orang terpukau mendengarkan “Stille Nacht, heilige Nacht” buat pertama kalinya dalam sejarah, mereka mungkin membayangkan diri hadir di tengah lanskap Palestina yang senyap sebelumYesus — sesenyap malam di desa Oberndorf di utara kota Salzburg itu. Salju membentang luas. Dingin mencengkeram. Langit gelap. Wilayah itu masih penuh puing dari perang Napoleon yang merusak Eropa. Di mana-mana hanya ada rumah dengan cahaya kecil. Dusun yang dihuni sekitar 5000 orang itu miskin. Sudah beberapa lama orgel di Gereja Santa Nikolas rusak, dan “Malam Sunyi”— dibawakan dua orang, suara tenor dan bas — pun hanya diiringi gitar. Saya bisa bayangkan, bagi jemaat di gereja itu — kebanyakan buruh perkapalan — Tuhan terasa menghibur, ...
