Postingan

PRABOWO JENDRAL TEMPUR VS JENDRAL KABUR

Gambar
PRABOWO JENDRAL TEMPUR VS JENDRAL KABUR Susah kalau jenderal gak pernah ke medan perang... jadinya pengecut... Beraninya perang intelijen memakai fasilitas negara... Kata mereka bikin perang total... ya maksudnya ternyata “perang memakai aparatur negara untuk melumpuhkan lawan dari belakang”... Waspada kawan-kawan tetap fokus ke depan.. Kalau Prabowo itu jenderal tempur, ia terjun ke medan perang, terjun beneran pakai parasut... Pertaruhkan nyawa, kata prajuritnya, “Dia kan mantu presiden, sebenarnya bisa menghindar... dia gak mau... dia turun ke battle pertaruhkan nyawa...”  Maka dia ksatria... Sikap ksatria ditunjukkan dengan keberanian berhadap-hadapan, berkata apa adanya, dan mengerti etika dalam menyerang lawan... Bangsa ini tahu bagaimana sang jenderal bertempur di medan perang.. Dan sekarang kita melihat bagaimana sang jenderal bertempur di medan politik. Sama, ksatria. Lalu sang jenderal difitnah, tuduhan yang dibuat secara sepihak, dengan motif pol...

PAPUK IRAH : DEMI ALLAH , SAYA TIDAK DIBAYAR OLEH TIM PRABOWO, SEMUA ITU BOHONG !

Gambar
Mataram, - Papuk Irah  panggilan akrabnya Sumirah, asal Kampung Telaga Mas, Kelurahan Bintaro, Kecamatan Ampenan-Mataram, seorang nenek tua sebatang kara yang diajak Prabowo naik panggung kampanye di lapangan Karang Pule yang kemudian muncul video viral di Medsos, yang seolah-olah Papuk Irah telah menerima uang 500 ribu dari Tim Prabowo. Atas menyebarnya video Papuk Irah yang sempat viral tersebut, Ketua Badan Pengawas dan Disiplin (BPD) Partai Gerindra, Haji Bambang Kristiono atau yang akrab disapa HBK dan istri tercintanya yaitu Hj. Dian Bambang melakukan silaturahmi dan tatap muka ke tempat kost Papuk Irah, Rabu sore (27/3). "Demi Alloh, saya tidak terima uang 500 ribu atau dibayar untuk naik panggung sama Prabowo", ujar Papuk Irah di hadapan HBK dan Hj. Dian Bambang. Menurut Papuk Irah, dirinya menghadiri kampanye terbuka Prabowo di Karang Pule itu atas kemauannya sendiri karena dari dulu ingin bisa melihat Prabowo. "Saya sempat dilarang menghadi...

PROFILEPROFIL

Gambar
Fahri Hamzah mulai dikenal publik sejak reformasi bergulir awal 1998. Laki-laki kelahiran Utan, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, 10 Nopember 1971 ini adalah deklarator dan ketua umum pertama organisasi gerakan mahasiswa paling besar saat itu, Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI). Fahri Hamzah adalah satu dari sedikit aktivis pemimpin organisasi atau gerakan mahasiswa yang sering disorot media massa karena berbagai diskusi, rapat dan demonstrasi mahasiswa yang digagasnya guna menurunkan rezim yang berkuasa. Ia juga seringkali bekerjasama dalam berbagai kesempatan dengan “bapak reformasi”, Amin Rais, untuk menggalang aksi-aksi besar di berbagai kota di Indonesia. Sebagai intelektual muda, lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI) ini banyak terlibat dalam kegiatan akademis dan kecendekiawanan sejak menjadi mahasiswa. Selain pernah bekerja sebagai salah satu pimpinan di Jurusan Ekonomi Ekstensi UI, ia juga pernah aktif sebagai Ketua Departemen Pengembangan Cendek...

BERI KESEMPATAN DPR MENGOREKSI KPK

Gambar
Beri Kesempatan DPR Mengoreksi KPK Oleh : Ubedilah Badrun Perdebatan atas langkah DPR untuk menggunakan hak angket terhadap KPK dalam beberapa jam setelah disetujui mewarnai jagat media sosial maupun media maistream. Sebenarnya publik tidak perlu beramai-ramai menghakimi DPR, itu hal biasa, sebab hak angket sesungguhnya adalah hak konstitusional DPR yang dijamin undang-undang. Hal ini juga bisa menjadi indikator bahwa fungsi pengawasan DPR sedang berjalan. Jaminan konstitusional hak angket DPR termuat dalam UU No 17 Tahun 2014 tentang MPR, DPR, DPRD, dan DPD (MD3). Sesuai dengan Pasal 79 ayat 3, bahwa hak angket adalah hak DPR untuk melakukan penyelidikan terhadap pelaksanaan suatu undang-undang dan/atau kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan hal penting, strategis, dan berdampak luas terhadap kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yang diduga bertentangan dengan peraturan perundang-undangan. Selain hak angket, DPR memiliki hak interpelasi dan hak menyatakan...

PRABOWO, “DILAN” TAHUN 1960-AN YANG DIGILAI GADIS-GADIS LONDON

Gambar
PRABOWO, “DILAN” TAHUN 1960-AN YANG DIGILAI GADIS-GADIS LONDON KRRIIIIIIIIINGNG ................ "Can I speak with Bowo, please?" "Who’s speaking here?" "Jane." Demikianlah telepon di rumah keluarga Dr. Sumitro di London setiap saat berdering. Kebanyakan telepon-telepon itu berasal dari gadis-gadis Inggris cilik yang ingin bicara dengan Bowo, atau nama lengkapnya Prabowo Subianto, anak ketiga Dr. Sumitro, yang sering dikejar-kejar oleh gadis-gadis cilik karena parasnya yang cakep. Kali ini Jane yang ingin bicara, lima menit kemudian Margareth, lain kali lagi Rose. Akan tetapi gadis-gadis cilik ini kerap kali juga dibuat kecewa, karena Bowo yang baru berusia 15 tahun dan belum suka cewe-cewean sering kali membentak mereka agar jangan mengganggunya di rumah. "I’ve told you many times not to call me at home!” Bowo sudah beberapa tahun menetap di London bersama dengan ibunya, Ny. Dora Sumitro, kakaknya Maryani Ekowati, dan adiknya Has...

BENARKAH KITA BUTUH PENGAWAS PEMILU INTERNASIONAL?

Gambar
BENARKAH KITA BUTUH PENGAWAS PEMILU INTERNASIONAL? Oleh Fahd Pahdepie* Kurang lebih seminggu sudah tagar #INAelectionObserverSOS mengudara dan merecoki percakapan media sosial kita. Beberapa kali tagar itu bahkan menjadi ‘trending topic’ baik di Facebook maupun Twitter, mengajak masyarakat awam berpikir bahwa pemilu di Indonesia tak akan berjalan dengan adil dan dipenuhi kecurangan, kemudian memunculkan urgensi perlunya pengawas internasional untuk pilpres yang akan datang. Benarkah kita butuh pengawas asing dalam kenduri demokrasi kali ini? Jawaban sederhanyanya, tentu saja, tidak sama sekali. Jika kita belajar ilmu politik dengan baik, terutama ilmu hubungan internasional, siapapun yang menggagas atau menggaungkan ide mendatangkan pengawas asing ke dalam pemilu kita sama sekali tidak paham apa yang sedang dibicarakannya—apalagi konsekuensi yang dimungkinkan dari munculnya gagasan tersebut. Di belahan dunia manapun, pengawasan pemilu oleh pihak luar hanya terjadi di neg...

NOBLESSE OBLIGE

Gambar
NOBLESSE OBLIGE (Selamat Milad Ibu Sukartini S. Djoyohadikusumo) Saya mendengar Sebuah Pidato berjudul “Noblesse Oblige” tadi sore, Sabtu 23/3/2019, sekitar pukul 14:30 saya mendengarnya langsung. Ini bukan pidato politik seorang politisi, atau pidato seorang jenderal, tapi sebuah pidato Ulang Tahun ke-100 ibu Sukartini S. Djoyohadikusumo. Ya, ibu Tien (demikian beliau dipanggil) sedang berulang tahun ke-100. Beliau sebetulnya lahir 19 Maret 1919. Tapi tuan rumah, “Keponakanku yang berani” (My Brave nephew), sebutan beliau kepada Prabowo, tuan rumah acara tadi baru bisa merayakan hari ini. Ibu Sukartini adalah adik kandung Prof. Sumitro Djoyohadikusumo yang merupakan ayah dari Prabowo. Saya diundang melalui Sdr Fadli Zon karena beberapa kali ketemu dan tertarik dengan beberapa pandangan saya di media massa. Maka pidato beliau Noblesse Oblige memukau saya. Pidato itu tidak saja memukau karena disampaikan oleh orang yang punya umur 100 tahun. Tapi karena makna yang t...

SETAHUN PEMECATAN FAHRI HAMZAH: MENELISIK SISI RASIONALITAS

Gambar
SETAHUN PEMECATAN FAHRI HAMZAH: MENELISIK SISI RASIONALITAS Oleh: Bambang Prayitno (Alumni KAMMI) Akhirnya, saya harus mengatakan. Memang benar apa yang disampaikan oleh Muhammad Sohibul Iman, Presiden PKS, lewat cuitan di akun twitternya pada 12 Maret 2017, tiga hari lalu; “Benar, tidak ada manusia (yang) rasional sempurna, semua terbatas (boundedly rational). Karena itu tak heran ‘orang-orang rasional’ pun bertindak konyol”. Ini pernyataan deja vu, seperti mengkonfirmasi alasan kejadian setahun lalu, yang akhirnya membuat kita mahfum; bahwa kekonyolan oknum petinggi PKS yang mengambil langkah memecat Fahri Hamzah, disebabkan karena sifat manusia yang penuh dengan keterbatasan. Pun dengan rasionalitasnya. Ada unsur lain yang mempengaruhi seluruh keputusan yang diambil saat itu. Keputusan yang membuat kaget mayoritas pengurus dan kader PKS. Semuanya diselubungi pikiran tak percaya. Tapi seperti itu kejadiannya. Ada sesuatu yang lain diluar rasionalitas kita untuk mence...

CATATAN PERJALANAN KE PONTIANAK BUMI KHATULISTIWA

Gambar
CATATAN PERJALANAN KE PONTIANAK BUMI KHATULISTIWA Bagian 3. Narasi, Energi dan Refleksi (Kutipan-Kutipan Pidato dan Nasihat Fahri Hamzah di Pontianak) a. Narasi Pasca Reformasi Mari sejenak kita tinggalkan Jakarta. Kita tinggalkan berbicara tentang Ahok dan berbagai macam permasalahan yang dibuatnya. Indonesia bukanlah Jakarta saja. Kita bedah mindset kita dan pandanglah dengan pandangan yang luas tentang Indonesia. Indonesia adalah tuju belas ribu pulau. Dengan berbagai macam masalahnya. Semuanya mesti mendapatkan perhatian kita semua. Tapi ini juga kesalahan kita semua. Seolah-olah Indonesia adalah Jakarta saja. Media sudah terlalu lama membiarkan pikiran kita disetir untuk hanya melihat dan memperhatikan Indonesia. Perputaran uang 70 persen ada di Jakarta. Seluruh masalah politik seolah-olah diselesaikan di Jakarta. Media berkantor di Jakarta dan malas meliput masalah daerah. Sehingga pembicaraan kita tak jauh-jauh dari Jakarta. Kita tahu bahwa Reformasi telah melahir...
SUARA KOTA PONTIANAK

ENTER YOUR EMAIL ADDRESS :

DELIVERED BY SUARA KOTA PONTIANAK ||| 🔔E-mail : ptmkspontianak@gmail.com

🚀POPULAR POST

JA'FAR BIN MUHAMMAD BIN ALI

KALAM TERDALAM (1)

PRABOWO, “DILAN” TAHUN 1960-AN YANG DIGILAI GADIS-GADIS LONDON

AKTA JUAL – BELI TANAH (11)

SANG MURSYID (10)

🔂 FOLLOWERS